Creweight
cinematograph, begitulah komunitas kecil pecinta perfilman ini disebut. Creweight
cinematograph ini berawal dari keinginan Faiz Rahman untuk mengikuti festival video edukasi tingkat nasional pada
tahun 2011 yang diselenggarakan oleh Kemendiknas (Kementrian Pendidikan Nasional). Saat itu pula terbentuklah Creweight cinematograph dengan anggota
Faiz, Lala, Bagus, Zaki, Ganda yang mulanya masing-masing dari mereka berasal
dari komunitas yang berbeda One Chance Production,
Fake Production, Kemakhi Production. Mereka tidak menentukan struktur
kepengurusan, disini mereka saling membantu pekerjaan satu sama lain, tetapi
tetap ada pertanggung jawaban untuk tiap pekerjaan. “Biasanya sih untuk hal
yang berhubungan dengan seketaris, diserahkan kepada Lala, editing film oleh Ganda,
dan Zaki sebagai kameramen.” tutur Faiz. Pada pengalaman pertama pembuatan film
pendek mereka yang berjudul “Sepatu” mereka menemui berbagai kendala, mulai dari keterbatasan media, dana,
dan koneksi. “Dulu itu ya, kita cuma punya satu kamera, dana kurang, link juga kurang,
pokoknya dulu itu jamannya susah banget. Kalau sekarang sih kita udah punya
kamera lima.” tutur Bagus. Tapi pengorbanan mereka di “Sepatu” berakhir manis
sebagai pemenang juara satu. Tapi yang paling utama untuk mereka adalah
menjaga kekompakan, tapi mereka tidak memungkiri bahwa konflik itu kerap
terjadi karena salah paham, kelelahan atau kepenatan pengerjaan yang harus
diselesaikan, dan biasanya salah satu dari mereka akan menjadi penengah, dan
masalah itupun dapat terselesaikan
Sementara ini mereka hanya membuat film jika ada lomba, dan sampai saat
ini mereka telah merampungkan 2 judul film, dan satu judul film yang masih
dalam proses pengerjaan. Dalam pembuatan film ini, mereka
tidak pernah memfokuskan hanya pada satu genre film saja, “kita sih bikin film genre apa aja,
sesuai tema lomba yang ditentukan.” pengakuan Zaki. Pengalaman kedua mereka
mengikuti lomba sekaligus pengalaman kedua untuk kemenangan mereka adalah
menjadi 6 film terbaik dengan judul “Three
Donkeys” yang diselenggarakan oleh Good Day Coffee. Untuk lomba film ketiga,
mereka sedang dalam proses finishing. Sedangkan untuk aktris dan aktor yang
membintangi film mereka adalah bantuan teman-teman secara sukarela, kadang
hanya dibayar dengan traktiran makan atau ngopi bareng. “Yah, untung kita masih
ada teman-teman yang mau membantu, biasanya kita bujuk dengan alasan supaya
mereka bisa numpang eksis sekalian”, Lala.
Niatnya iseng ikutan lomba
lalu menang dapat hadiah, dari sinilah mereka ketagihan membuat film pendek
untuk dilombakan. Dari kemenangan ini, selain mereka bisa menyalurkan hobi dan
mengembangkan bakat, mereka juga bisa mendapat tambahan uang jajan. Keuntungan
lain dari pembuatan film ini, mereka bisa mendapat pengalaman baru, teman baru,
melatih kreativitas, dan mendapat banyak koneksi diberbagai bidang khususnya
dalam bidang perfilman itu sendiri. “Mereka memang mujur bin ajaib, pertama coba-coba eh udah langsung bawa
hadiah aja, ya lumayanlah buat traktir-traktir kita.” Tutur salah satu artis
sekaligus teman dekat mereka.
Mereka tidak hanya
mengambil keuntungan semata, mereka juga ingin membagikan pengalaman dan
pengetahuan yang mereka miliki kepada teman dan lingkungan sekitar mereka dengan
rencana selanjutnya mereka ingin mencoba menjadi pembimbing ekstrakulikuler
dibeberapa sekolah dan membentuk komunitas cinematografi dikalangan pelajar
jogja. “Perfilman di Indonesia itu, kacau banget, kurang mendidik!” tutur
beberapa dari anggota Creweight. Menurut mereka, banyak dari rumah produksi
yang cepat merasa puas atas apa yang dicapai, jika mengeluarkan satu film dan
mendapat rating tinggi, maka akan
banyak rumah produksi yang ikutan tanpa memberikan innovasi baru, sehinga
perfilman di Indonesia susah maju. Dengan ini mereka berharap perfilman di
Indonesia akan lebih berkualitas dan tidak kalah saing dengan perfilman barat
yang dapat marambah ke dunia internasional.
“Jual apa yang bisa
dijual dari Indonesia!” pesan mereka untuk perfilman indonesia, yang dimaksud
adalah banyak hal yang bisa diangkat dari Indonesia mulai dari keanekaragaman
budaya, keunikan tradisi dan pesona alam Indonesia, banyak rumah produksi barat
yang mengambil lokasi syuting di Indonesia, mengangkat budaya Indonesia, jadi
seharusnya sebagai anak bangsa kita bangga dengan kekayaan Indonesia. (mira)
(Kedaulatan Rakyat :
Selasa, 4 September 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar