Jumat, 12 April 2013

creweight




Creweight cinematograph, begitulah komunitas kecil pecinta perfilman ini disebut. Creweight cinematograph ini berawal dari keinginan Faiz Rahman untuk mengikuti festival video edukasi tingkat nasional pada tahun 2011 yang diselenggarakan oleh Kemendiknas (Kementrian Pendidikan Nasional). Saat itu pula terbentuklah Creweight cinematograph dengan anggota Faiz, Lala, Bagus, Zaki, Ganda yang mulanya masing-masing dari mereka berasal dari komunitas yang berbeda One Chance Production, Fake Production, Kemakhi Production. Mereka tidak menentukan struktur kepengurusan, disini mereka saling membantu pekerjaan satu sama lain, tetapi tetap ada pertanggung jawaban untuk tiap pekerjaan. “Biasanya sih untuk hal yang berhubungan dengan seketaris, diserahkan kepada Lala, editing film oleh Ganda, dan Zaki sebagai kameramen.” tutur Faiz. Pada pengalaman pertama pembuatan film pendek mereka yang berjudul “Sepatu” mereka menemui berbagai kendala, mulai dari keterbatasan media, dana, dan koneksi. “Dulu itu ya, kita cuma punya satu kamera, dana kurang, link juga kurang, pokoknya dulu itu jamannya susah banget. Kalau sekarang sih kita udah punya kamera lima.” tutur Bagus. Tapi pengorbanan mereka di “Sepatu” berakhir manis sebagai pemenang juara satu. Tapi yang paling utama untuk mereka adalah menjaga kekompakan, tapi mereka tidak memungkiri bahwa konflik itu kerap terjadi karena salah paham, kelelahan atau kepenatan pengerjaan yang harus diselesaikan, dan biasanya salah satu dari mereka akan menjadi penengah, dan masalah itupun dapat terselesaikan
Sementara ini mereka hanya membuat film jika ada lomba, dan sampai saat ini mereka telah merampungkan 2 judul film, dan satu judul film yang masih dalam proses pengerjaan. Dalam pembuatan film ini, mereka tidak pernah memfokuskan hanya pada satu genre film saja, “kita sih bikin film genre apa aja, sesuai tema lomba yang ditentukan.” pengakuan Zaki. Pengalaman kedua mereka mengikuti lomba sekaligus pengalaman kedua untuk kemenangan mereka adalah menjadi 6 film terbaik dengan judul “Three Donkeys” yang diselenggarakan oleh Good Day Coffee. Untuk lomba film ketiga, mereka sedang dalam proses finishing. Sedangkan untuk aktris dan aktor yang membintangi film mereka adalah bantuan teman-teman secara sukarela, kadang hanya dibayar dengan traktiran makan atau ngopi bareng. “Yah, untung kita masih ada teman-teman yang mau membantu, biasanya kita bujuk dengan alasan supaya mereka bisa numpang eksis sekalian”, Lala.
Niatnya iseng ikutan lomba lalu menang dapat hadiah, dari sinilah mereka ketagihan membuat film pendek untuk dilombakan. Dari kemenangan ini, selain mereka bisa menyalurkan hobi dan mengembangkan bakat, mereka juga bisa mendapat tambahan uang jajan. Keuntungan lain dari pembuatan film ini, mereka bisa mendapat pengalaman baru, teman baru, melatih kreativitas, dan mendapat banyak koneksi diberbagai bidang khususnya dalam bidang perfilman itu sendiri. “Mereka memang mujur bin ajaib, pertama coba-coba eh udah langsung bawa hadiah aja, ya lumayanlah buat traktir-traktir kita.” Tutur salah satu artis sekaligus teman dekat mereka.
Mereka tidak hanya mengambil keuntungan semata, mereka juga ingin membagikan pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki kepada teman dan lingkungan sekitar mereka dengan rencana selanjutnya mereka ingin mencoba menjadi pembimbing ekstrakulikuler dibeberapa sekolah dan membentuk komunitas cinematografi dikalangan pelajar jogja. “Perfilman di Indonesia itu, kacau banget, kurang mendidik!” tutur beberapa dari anggota Creweight. Menurut mereka, banyak dari rumah produksi yang cepat merasa puas atas apa yang dicapai, jika mengeluarkan satu film dan mendapat rating tinggi, maka akan banyak rumah produksi yang ikutan tanpa memberikan innovasi baru, sehinga perfilman di Indonesia susah maju. Dengan ini mereka berharap perfilman di Indonesia akan lebih berkualitas dan tidak kalah saing dengan perfilman barat yang dapat marambah ke dunia internasional.
“Jual apa yang bisa dijual dari Indonesia!” pesan mereka untuk perfilman indonesia, yang dimaksud adalah banyak hal yang bisa diangkat dari Indonesia mulai dari keanekaragaman budaya, keunikan tradisi dan pesona alam Indonesia, banyak rumah produksi barat yang mengambil lokasi syuting di Indonesia, mengangkat budaya Indonesia, jadi seharusnya sebagai anak bangsa kita bangga dengan kekayaan Indonesia. (mira)

(Kedaulatan Rakyat : Selasa, 4 September 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar