Jumat, 12 April 2013

Kuliah atau Dota??



Saat ini siapa sih yang tidak  mengenal Dota, dari remaja hingga anak taman kanak-kanak banyak yang menjadi maniak Dota. Dota adalah game strategi yang dimainkan perseorangan atau beberapa orang dalam satu team dan memerlukan kekompakan tim dan skill tiap pemain. Tidak dapat dipungkiri bila beberapa tahun belakangan ini Dota menjadi fenomena, karena hampir tiap remaja memainkan game ini. Kebanyakan dari mereka mengaku ketagihan bermain Dota  setelah sekali mencoba, contohnya seperti Niki S2 Matematika Universitas Gadjah Mada (UGM). “yang paling bikin ketagihan itu, ya rasa ingin menang dan menguasai hero-hero Dota yang ada”, tutur Niki
Bermain Dota itu membuat sangat ketagihan dan membawa berbagai efek dari segi positif dan negative. Dampak positifnya ada berbagai hal, mulai dari membentuk link baru dan menambah wawasan juga. “Kadang aku main Dota ada hubungannya buat kuliah juga, misalnya saat mata kuliah bahasa inggris ada soal, nah aku ingat di Dota ada kosakata itu, jadi main Dota bisa sekaligus menambah kosakata baru, nggak cuma Dota sih, game lain juga kayak gitu”, tutur Niki. “Selain itu dengan main Dota kita dituntut untuk memiliki strategi yang kuat dan bagus untuk menang. Selain itu bermain Dota kan juga memerlukan kekompakan team, jadi kita bisa sekaligus belajar cara mengerti satu sama lain yang bisa diaplikasikan dalam hal berorganisasi”, pengakuan Monzeri. Tapi menurut Abdusalam yang akrab dipanggil Aam Teknik Geodesi UGM hal yang paling penting dari bermain Dota ini kita bisa mendapatkan kenalan baru, dalam lingkup kecilnya sesama pecinta Dota itu sendiri dan mereka bisa memiliki banyak link, karena sering diadakan kumpul-kumpul pecinta Dota entah itu per-jurusan, angkatan, fakultas, atau bahkan antar universitas. Biasanya untuk pecinta Dota di kampus UGM sendiri, mereka memiliki akun grup di facebook dan di grup inilah mereka saling sharing berbagai hal dalam Dota, di grup ini juga beberapa kali mereka janjian untuk bermain Dota barsama.
Tetapi menurut mereka berdua, Dota lebih banyak membawa dampak negative dikalangan mahasiswa saat ini misalnya dari segi waktu dan biaya. “Kebanyakan orang main Dota jadi lupa waktu, sering begadang jadi waktu ada kuliah pagi jadi malas berangkat akhirnya bolos atau titip absen yang biasa disebut dengan TA” ,tutur Niki. “Sekarang ini aku malah lebih sering main Dota dibanding jam buat kuliah, kalo kuliah hari senin sampai jumat, nah kalo Dota tiap hari nonstop, coba hidup ini nggak ada tuntutan hidup, kayaknya bakal aku pakai buat Dota. Udah deh Dota tuh udah kayak semacam narkotika”, canda Aam. “Selain itu disisi biaya, bagi yang dikos, kontrakan, atau dirumahnya tidak ada koneksi internet bisa-bisa kehabisan biaya hanya untuk ke game online gara-gara keenakan bermain Dota ditambah tempatnya lebih dapat feel-nya daripada di kos, ”, tambah Monzeri Teknik Geodesi UGM. “Beberapa orang mungkin berpikir para pecinta Dota mempunyai masalah kuliah, tapi banyak juga beberapa dari mereka yang memiliki prestasi akademik di kampus”, tambah Aam.
Untuk Dota sendiri saat ini sudah banyak kompetisinya hingga tingkat dunia, tapi sayangnya Indonesia belum pernah memenangkan kompetisi tingkat dunia. Untuk turnamen Dota di UGM sudah banyak, tapi yang paling sering lingkup intern.
“Main Dota itu boleh, boleh banget malahan.. asalkan kita pintar dalam me-manage waktu dan jangan jadikan tempat game online jadi rumah kedua (tiap hari ke game online, pulang kos cuma ganti baju), dan sadar diri, jangan utamain Dota, sampai-sampai kuliahnya keteteran, tapi jangan serius kuliah juga, ntar malah stress. Nah, main Dota bisa dijadikan salah satu alternatif untuk refreshing dan melepaskan kepenatan dari kuliah”, saran dari Monzeri sambil ndagel.
            “Ya, sebisa mungkin hati-hati main Dota sebelum kecanduan atau bahkan dihindari, main Dota kalau bisa waktu libur aja. Memang ada beberapa yang tetap berprestasi meskipun maniak Dota, tapi tidak dapat dipungkiri kalau masih banyak mahasiswa yang kuliahnya keteteran dan belum lulus-lulus gara-gara Dota”, tambah Aam (mira)

1 komentar: