Minggu, 14 Oktober 2012

Kerap Kali Bantingan


FORKOMMI (forum komunikasi mahasiswa minang) didirikan di Yogyakarta pada tanggal 5 Oktober 1995. Pada awal berdirinya organisasi/forum ini adalah hanya sebagai tempat silaturahmi mahasiswa minang untuk saling berkomunikasi dan berdiskusi, yaitu forum ini lebih bercirikan paguyuban. Namun seiring bertambahnya usia, serta berbagai diskusi dan kajian, akhirnya forum diorientasikan kepada organisasi kemahasiswaan yang berbasis gerakan sosial budaya dan pendidikan “menyiapkan insan akademik minang yang berwawasan nasional yang islami dan berjiwa sosial tinggi,” ujar Puja, ketua Forkommi kepada Swara Kampus.
            Saat ini “komandan” FORKOMMI memang dipercayakan kepada Puja  (Perencanaan tata wilayah dan kota UGM 2010) sebagai ketua, Awando Ahmad (Diploma Teknik Elektro UGM 2010) sebagai sekjen, Logita (Peternakan UGM 2011) sebagai bendahara, Refilna Andika (International Mathematic UNY 2010) sebagai sekretaris. Sedangkan kantor sekretariatnya di Jl.Kaliurang KM 5 Sleman, Yogyakarta.
Selain kepengurusan inti, dibentuk lagi 4 bidang kepengurusan, yaitu bidang internal dan pengorganisasian yang mengurus masalah internal seperti perekrutan mahasiswa baru dan pembinaan. Bidang minat dan bakat yang membantu anggota untuk mengembangkan bakat dan minat mereka. Bidang dakwah social yang menangani bakti social seperti donor darah dan aksi turun ke jalan yang dilakukan ketika terjadi bencana gempa di Sumatera Barat beberapa saat lalu. Bidang yang terakhir adalah dana usaha dan eksternal yang biasanya membentuk koneksi ke luar forum.
            Kegiatan dari FORKOMMI ini sendiri tiap awal tahun ajaran mahasiswa baru diawali dengan perekrutan mahasiswa minang baru, lalu penyambutan oleh para senior dengan tujuan agar para mahasiswa baru dapat saling mengenal satu sama lain dan juga dengan para senior. Selain itu kegiatan ini bertujuan memberi informasi seputar Yogyakarta kepada Maba (Mahasiswa Baru). Setelah penyambutan, kegiatan yang paling penting dalam serangkaian penyambutan adalah pelatihan kepemimpinan dasar (latpemsar). Latpemsar ini nantinya akan berguna untuk para anggota dalam berorganisasi diluar FORKOMMI.
            “Banyak  manfaat yang bisa diambil dari keanggotaan di FORKOMMI,” tutur Farid (fakultas hukum UGM 2011). Sambil menjelaskan bahwa dengan ikut Forkommi ia bias belajar tentang kemandirian, kepemimpinan dan tidak merasa asing tinggal jauh dari kampung halaman,  mendapat banyak koneksi, dan yang pasti kenalan baru.
 Di sisi lain, dalam suatu forum rasanya tidak “komplit” tanpa konflik, konflik yang biasa terjadi biasanya dalam hal argumentasi dari teman-teman yang kadang bersifat idealis, tapi setelah dimusyawarahkan hal ini pun dapat teratasi dan mencapai satu mufakat (persetujuan). “Kalau kata orang tetua dulu sih, adat basandi sarah, sarah basandiang qitabullah.”tutur Farid yang artinya adat bersumber dari syariat, syariat berasal dari Al-quran, yang dimana dalam Al-quran kita harus menghargai pendapat orang lain dalam bermusyawarah.
            Hingga kini Forkommi juga pernah mengukir prestasi seperti pertandingan sepak bola piala Sri Sultan Hamengku Buwono X, harapan 1 futsal TDC club, pertandingan voli IMAMI (ikatan mahasiswa amikom) cup 2008. “Sayangnya, saat ini masih banyak forum kedaerahan termasuk FORKOMMI yang belum mendapat perhatian penuh dari pemerintah, karena sampai saat ini semua kegiatan yang dilakukan oleh forum ini masih menggunakan dana sukarela dari anggota dan kadang-kadang juga bantingan. (mira)

(Kedaulatan Rakyat : Selasa, 11 September 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar