Kehidupan itu tak luput dari bersosialisasi, pada
setiap interaksi dalam bersosial itu akan terlihatlah berbagai macam perbedaan.
Dengan keberagaman itu kita mendapat sesuatu yang baru, mulai dari pengetahuan,
pemenuh kebutuhan rohani , jasmani, dan lain-lain. Dan keberagaman akan membuat
hidup kita menjadi lebih berwarna, tergantung kita melihatnya dari segi apa.
Indonesia
memang dikenal dengan keberagamannya, sesuai dengan slogan Bhineka Tunggal Ika. Slogan itu berarti kita bangsa Indonesia itu
berbeda-beda namun tetap satu jua, tapi apakah hal itu benar-benar terealisasi?
Mungkin dibeberapa hal, hal ini memang terwujud, tetapi tidak jarang kita
mendengar banyaknya berita negative dari keberagaman kita ini.
Berita negative ini bisa merupakan SARA, hal ini tidak
hanya dilakukan oleh orang biasa, bahkan public
figure sekalipun bisa melakukannya. Berita pelanggaran SARA yang sempat
heboh di media dilakukan oleh raja dangdut Rhoma Irama yang terkait dengan
Pemilukada (Pemilihan Umum Kepala Daerah) beberapa waktu lalu di DKI Jakarta. Rhoma
Irama melakukan pelanggaran SARA terhadap pasangan Jokowi Ahok mengenai ras
Ahok yang keturunan Tionghoa , hal ini dilakukan pada saat dakwah kepada para
pendengarnya.
Kasus
lain dari keberagaman yang kita miliki adalah keberagaman agama yang terjadi di
Ambon beberapa tahun silam pada jaman pemerintahan BJ. Habibie. Hal ini terjadi
antara umat Islam dengan Kristen, mulanya hal ini terjadi akibat pelanggaran
HAM (Hak Asasi Manusia) yang merembet hingga perbedaan agama.
Keberagaman
di Indonesia sebenarnya bisa dijadikan potensi bangsa untuk negara kita, hanya
saja masih banyak orang yang menilai setiap perbedaan atau hal yang menjadi
minoritas sebagai sesuatu yang kurang baik dan tidak sesuai dengan nilai-nilai
yang benar. Hal ini terkait dengan kurangnya SDM (Sumber Daya Manusia) dari
tiap masyarakat Indonesia, sehingga mudah saja diadu domba untuk berbagai
kepentingan pihak yang tak bertanggung jawab, seperti keperluan politik. Jika
dilihat dari contoh kasus kedua yang disebutkan diatas, kasus tersebut berlatar
belakang kepentingan segelintir pihak yang menginginkan negara Indonesia
menjadi negara agama, yang dimana pihak tersebut peranggapan bahwa dia dapat
menjadi penguasa di negara agama tersebut.
Tetapi
jika dibandingkan dengan sekarang, tentu sudah banyak perubahan yang baik dalam
menghidupi keberagaman di Indonesia dibandingkan dengan jaman penjajahan dahulu
yang berangsur hingga saat ini. Sekarang ini banyak kita temui diberbagai
daerah, bahkan di lingkungan tempat kita tinggal banyak sekali orang yang hidup
berdampingan dengan keberagaman status social dan latar belakang social, entah
itu dalam hal agama, suku, adat, pekerjaan, pendidikan, bahkan kewarganegaraan
sekalipun.
Oleh
karena itu, kita sebagai generasi muda jadikanlah perbedaan itu sebagai potensi
untuk negara Indonesia, bukan sebagai alasan untuk membuat sebuah kerusuhan.
Sehingga Indonesia juga bisa dipertimbangkan di mata Internasional. (mira)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar