Saat ini siapa sih yang tidak mengenal Dota, dari remaja hingga anak taman
kanak-kanak banyak yang menjadi maniak Dota. Dota adalah game strategi yang
dimainkan perseorangan atau beberapa orang dalam satu team dan memerlukan kekompakan tim dan skill tiap pemain. Tidak
dapat dipungkiri bila beberapa tahun belakangan ini Dota menjadi fenomena,
karena hampir tiap remaja memainkan game ini. Kebanyakan dari mereka mengaku
ketagihan bermain Dota setelah sekali
mencoba, contohnya seperti Niki S2 Matematika Universitas Gadjah Mada (UGM).
“yang paling bikin ketagihan itu, ya rasa ingin menang dan menguasai hero-hero Dota
yang ada”, tutur Niki
Bermain Dota itu membuat sangat
ketagihan dan membawa berbagai efek dari segi positif dan negative. Dampak
positifnya ada berbagai hal, mulai dari membentuk link baru dan menambah
wawasan juga. “Kadang aku main Dota ada hubungannya buat kuliah juga, misalnya
saat mata kuliah bahasa inggris ada soal, nah aku ingat di Dota ada kosakata
itu, jadi main Dota bisa sekaligus menambah kosakata baru, nggak cuma Dota sih,
game lain juga kayak gitu”, tutur Niki. “Selain itu dengan main Dota kita
dituntut untuk memiliki strategi yang kuat dan bagus untuk menang. Selain itu
bermain Dota kan juga memerlukan kekompakan team, jadi kita bisa sekaligus
belajar cara mengerti satu sama lain yang bisa diaplikasikan dalam hal
berorganisasi”, pengakuan Monzeri. Tapi menurut Abdusalam yang akrab dipanggil
Aam Teknik Geodesi UGM hal yang paling penting dari bermain Dota ini kita bisa
mendapatkan kenalan baru, dalam lingkup kecilnya sesama pecinta Dota itu
sendiri dan mereka bisa memiliki banyak link,
karena sering diadakan kumpul-kumpul pecinta Dota entah itu per-jurusan,
angkatan, fakultas, atau bahkan antar universitas. Biasanya untuk pecinta Dota
di kampus UGM sendiri, mereka memiliki akun grup di facebook dan di grup inilah
mereka saling sharing berbagai hal dalam Dota, di grup ini juga beberapa kali
mereka janjian untuk bermain Dota barsama.
Tetapi menurut mereka berdua, Dota lebih
banyak membawa dampak negative dikalangan mahasiswa saat ini misalnya dari segi
waktu dan biaya. “Kebanyakan orang main Dota jadi lupa waktu, sering begadang
jadi waktu ada kuliah pagi jadi malas berangkat akhirnya bolos atau titip absen
yang biasa disebut dengan TA” ,tutur Niki. “Sekarang ini aku malah lebih sering
main Dota dibanding jam buat kuliah, kalo kuliah hari senin sampai jumat, nah
kalo Dota tiap hari nonstop, coba hidup ini nggak ada tuntutan hidup, kayaknya
bakal aku pakai buat Dota. Udah deh Dota tuh udah kayak semacam narkotika”,
canda Aam. “Selain itu disisi biaya, bagi yang dikos, kontrakan, atau
dirumahnya tidak ada koneksi internet bisa-bisa kehabisan biaya hanya untuk ke
game online gara-gara keenakan bermain Dota ditambah tempatnya lebih dapat feel-nya daripada di kos, ”, tambah
Monzeri Teknik Geodesi UGM. “Beberapa orang mungkin berpikir para pecinta Dota
mempunyai masalah kuliah, tapi banyak juga beberapa dari mereka yang memiliki
prestasi akademik di kampus”, tambah Aam.
Untuk Dota sendiri saat ini sudah banyak
kompetisinya hingga tingkat dunia, tapi sayangnya Indonesia belum pernah
memenangkan kompetisi tingkat dunia. Untuk turnamen Dota di UGM sudah banyak,
tapi yang paling sering lingkup intern.
“Main
Dota itu boleh, boleh banget malahan.. asalkan kita pintar dalam me-manage waktu dan jangan jadikan tempat
game online jadi rumah kedua (tiap hari ke game online, pulang kos cuma ganti
baju), dan sadar diri, jangan utamain Dota, sampai-sampai kuliahnya keteteran,
tapi jangan serius kuliah juga, ntar malah stress. Nah, main Dota bisa
dijadikan salah satu alternatif untuk refreshing
dan melepaskan kepenatan dari kuliah”, saran dari Monzeri sambil ndagel.
“Ya, sebisa mungkin hati-hati main
Dota sebelum kecanduan atau bahkan dihindari, main Dota kalau bisa waktu libur
aja. Memang ada beberapa yang tetap berprestasi meskipun maniak Dota, tapi
tidak dapat dipungkiri kalau masih banyak mahasiswa yang kuliahnya keteteran
dan belum lulus-lulus gara-gara Dota”, tambah Aam (mira)
yang sabar bang akakakkak
BalasHapus